PANEMBAHAN RADJA PANDITA

Pada masa pemerintahan  PANEMBAHAN RADJA TUA ,yang kemudian di lanjutkan oleh RADJA PANDITA,Kerajaan Kesultanan Bulungan selalu saja dan  sudah ada tanda –tanda ingin menguasai Kerajaan Tidung hal ini sering timbulnya perselisihan dan karena turut campur tangan dalam hal pengelolaan hasil hutan,pakaian kebesaran kerajaan,dan lain sebagainya.akhirnya oleh kolonial belanda RADJA PANDITA bersama dengan kedua cucunya SAYID ABDURAHMAN dan SAYID ABU BAKAR di asingkan/dibuang ke BATAVIA,sedangkan AJI KUNING pulang kembali ke Malinau dan setelah dua tahun di Batavia,beliau dikirim kepulauan Seribu,sehingga semenjak kedatangan beliau di pulau tersebut,maka  dinamakanlah oleh beliau pulau tersebut dengan nama PULAU TIDUNG,karena memang RADJA PANDITA adalah seorang Raja yang berasal dari suku TIDUNG.


RIWAYAT SINGKAT


RADJA PANDITA






RIWAYAT SINGKAT DARI RADJA PANDITA

Riwayat singkat dari Radja Pandita ini di bagi kepada beberapa bagian ,sebagaimana berikut:
 1.Pendahuluan
1l. Zaman Kerajaan Tidung  Versi Radja Pandita
111.Kronologi Pengasingan Radja Pandita
1V.Rangkuman/Kesimpulan
 V. Penutup
Uraian
1.PENDAHULUAN
Adapun indentitas radja Pandita,adalah sebagai berikut:
NAMA                   :  AJI MUHAMMAD SAPU
ALIAS                    : KACA
GELAR                  : PANEMBAHAN RADJA.  PANDITA
NAMA AYAH        : AJI MUHAMMAD ALI HANAPIAH Dengan. Gelar PANEMBAHAN RADJA TUA.
NAMA IBU             : AJI RATU Binti. PANEMBAHAN ALIMUDIN(PANEMBAHAN HASAN),Keturunan Dari Raja Tidung.

Tempat tanggal lahir :KUALA MALINAU,20 JULI 1817
       
       Pada zaman pemerintahan MUHAMMAD ALI HANAPIAH  yang berkuasa sebagai Radja Tidung,maka Kerajaan dipindahkan dari satu daerah ke daerah lain.hal ini tidak lain kerana menghindar pertumpahan darah sebagai akibat perang antara suku,yang  pada akhirnya dipindahkan suatu tempat bernama Kuala Malinau.
            
        Disini Kerajaan Tidung aman dan damai serta terhindar dari peperangan antara suku,kemudian kehadiran suku-suku lain di Kerajaan Tidung selanjutnya,hanya sebagai sahabat dan pedagang,yang berdagang kepada penduduk.

PANEMBAHAN RADJA TUA mempunyai 7 (Tujuh) orang anak sebagai mana tertera dalam silsilah(Stambon) dan RADJA PANDITA adalah anak yang kedua yang menerima tahta Kerajaan dari orang tuanya,setelah mendapat persetujuan seisi negeri dengan gelar :

PANEMBAHAN RADJA PANDITA


11.ZAMAN KERAJAAN TIDUNG  VERSI RADJA PANDITA
RADJA PANDITA dinobatkan menjadi Radja pada tahun 1853 menggantikan  ayahnya yang wafat dan telah dimakam di perkuburan Kerajaan KUALA  MALINAU,seberang desa PULAU SAPI,yang  saat  ini menjadi ibu kota kecamatan mentarang,kabupaten malinau Provinsi Kalimantan Timur.
Pada tahun 1887 m pusat pemerintahan Kerajaan Tidung di KUALA MALINAU,dipindahkan ke KUALA KABIRAN,yang saat ini diseberang Tanjung Belimbing Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Timur,dan sampai saat ini masih ada sisa-sisa Tiang Bangunan Kerajaan berdiri kokoh sebagai peninggalan Kerajaan.
Pada masa Kerajaan Tidung dibawah pimpinan RADJA PANDITA,penduduk dari luar seperti suku-suku lain ( Banjar dan Arab)mulai berdatangan,dan ada yang menetap dan menikah ,dan ada pula sebagai pedagang yang mengadakan pertukaran dan penjualan hasil hutan dengan mata uang oleh pedagang terhadap penduduk,dan sejak saat itu pula di berlakukan pengutan cukai(bea) terhadap pedagang-pedagang sebesar 10 %.
lll.KRONOLOGI PENGASINGAN RADJA PANDITA
pada masa pemerintahan PANEMBAHAN RADJA TUA ,yang kemudian dilanjutkan oleh RADJA PANDITA .Kerajaan  Kesultanan Bulungan sudah ada tanda-tanda ingin menguasai Kerajaan Tidung ,hal ini sering timbulnya perselisihan  dan turut campur tangan dalam hal pengolahan hasil hutan ,pakaian kebesaran Kerajaan dan lain  sebagainya.
Hanya saja pada zaman Pemerintahan  SULTAN MAULANA MOHAMMAD KAHARUDIN berkuasa dan beristerikan adik dari RADJA PANDITA yang bernama AJI RINDU,hubungan antara kedua Kerajaan( Bulungan dan Tidung) merasa aman dan damai,karena sebagai akibat dari hubungan antara kedua beripar,dan kasihan terhadap adik kandungnya tersebut.
Selama SULTAN MAULANA MOHAMMAD KAHARUDIN menikah dan tinggal bersama di Kuala Malinau,maka sebagian cukai dari perdagangan hasil hutan diberikan oleh RADJA PANDITA kepada SULTAN MAULANA MOHAMMAD KAHARUDIN dan isterinya AJI RINDU sebagai ongkos biaya hidup,sampai pindah kembali ke bulungan.
Setelah SULTAN MAULANA MOHAMMAD KAHARUDIN mangkat,maka penggantinya tetap  meminta kepada RADJA PANDITA untuk membagikan hasil cukai perdagangan kepada kerajaan bulungan,namun tidak disetuju/diberikan oleh RADJA PANDITA.
Sultan Bulungan menganggap bahwa kerajaan tidung berada dalam taklukkannya yang dituangkan dalam kontrak antara Sultan Bulungan ( MAULANA MOHAMMAD KAHARUDIN) dengan GUBERNEMEN BELANDA  bersama dengan RESIDENT JJ MEJER dari Z.O.B. pada tahun 1878 yang disetujui oleh GEBERNUR JENDERAL VAN LANDSBERGE,yang masalah ini sama sekali tidak diketahui oleh RADJA PANDITA.Karena kontrak tersebut tidak diketahui oleh Radja Pandita ,maka secara otomatis pula hal tersebut tidak disetujui oleh Radja Pandita  yang merasa berdiri sendiri dan berkuasa sendiri,sebagai sebuah Kerajaan Tidung.
Menanggapi hal tersebut ,maka RADJA PANDITA akhirnya mengirimkan utusan untuk bertemu dengan GUBERNEMEN BELANDA yang berkedudukan di TAWAU( sekarang  sabah malaysia timur).dan utusan tersebut  diketahui oleh sepupu RADJA PANDITA  yakni PANGERAN MUKAMAD
Setelah  sampai di Tawau, misi mereka tidak berhasil karena pembesar belanda yakni wakil gubernemen belanda sedan  bepergian ke Kutai,dan merekapun pulang kembali Kerajaan Tidung.
Pada tanggal 22 Muharram 1293 H,bersamaan dengan tahun 1881 M ,oleh RADJA PANDITA karena merasa sudah tua,dengan persetujuan para menteri dan seisi negeri,lalu diangkatlah cadangan bakal pengganti RADJA PANDITA sebagai Panembahan,yakni cucunya yang bernama SAYID ABDURAHMAN ,dengan gelar SYARIF PANEMBAHAN.
Dua tahun kemudian  dari pengangkatan cucunya sebagai pengganti Radja Pandita,pada Tahun 1883 m datanglah sebuah kapal perang dengan membawa rombongan assisten resident yang terdiri dari anak-anak Raja Bulungan,controleur dan militer kolonial belanda.
Kapal perang tidak dapat meneruskan perjalanan  sampai ke Kerajaan Tidung di KUALA MALINAU ,karena keadaan sungai dan berlabuh di KUALA BENGALUN,dan oleh ASSISTEN RESIDENT,diutuslah seorang juru tulis bernama Sayid Sech Bin Yahya untuk bertemu  dengan RADJA PANDITA yang pesan menyampaikan bahwa ASSISTEN RESIDENT ingin bertemu dengan RADJA PANDITA  dan sudah  menunggu diatas kapal di kuala bengalun.
Setelah RADJA PANDITA mendengar,maka pada hari itu juga RADJA PANDITA berangkat  menemui ASSISTEN RESIDENT bersama pengawalnya.
Setelah tiba diatas kapal perang tersebut,ASSISTEN RESIDENT mengatakan sebaiknya  RADJA PANDITA masuk ke Bulungan untuk berunding dengan Sultan Bulungan dan Gebernemen BELANDA,yang  akhirnya disetujui oleh RADJA PANDITA sehingga esok  harinya(Kamis),RADJA PANDITA yang diiringi oleh keponakan nya PANEMBAHAN AJI KUNING serta cucunya Sayid Abdurahman,ikut berangkat ke Bulungan bersama pengiring-pengiringnya yang lain.
Bersama –sama dengan PANGERAN MAHARAJADINDA dari SESAYAP,perjalanan diteruskan  dan tiba di Bulungan pada hari sabtu. Setibanya di Bulungan,RADJA PANDITA dipanggil bersama dengan cucunya SAYID ABDURAHMAN yang bergelar SYARIF PANEMBAHAN oleh Controleur dan dihadapan ASSISTEN RESIDENT yang  dipertanyakan adalah mengenai pengangkatan cucunya SAYID ABDURAHMAN dengan  gelar SYARIF  PENEMBAHAN apakah diketahui oleh Sultan Bulungan.
Dengan pertolongan seorang Arab yang bernama Sekh Salim sebagai juru bahasa,Radja Pandita mengatakan bahwa pengangkatan Sayid Abdurahman sebagai Syarif Panembahan,adalah berdasarkan Mufakat,dan tidak perlu mendapatkan persetujuan dari pihak lain,terkuali pihak keluarga terkait.
Setelah assisten resident mendengar ,maka Radja Pandita disuruh pulang,dan kemudian atas permintaan assisten resident agar supaya juru bahasa (Sekh Salim) membawa sayid abduraman gelar   Syarif Panembahan,cucuk Radja Pandita untuk menghadap kepada assisten resident.
Setelah tiba dihadapan assisten resident,yang yang bertanya dipertanyakan kepada Syaarif Panembahan adalah mengenai keturunannya apakah ia keturunan dari Palembang atau Banjar,yang langsung dijawab oleh Sayid Abdurahman bahwa dia adalah keturunan Arab.
Selanjutnya Sayid Abdurahman disuruh kembali,dan pada sore harinya Sekh Salim sebagai juru bahasa atas permintaan assisten resident dan sultan bulungan,meminta kepada raja pandita:
1.pajak (cukai)hasil getah,rotan,sarang burung serta apa-apa yang dikeluarkan dari Malinau diberikan kepada Sultan Bulungan.
2.Radja Pandita tidak boleh melarang  orang –orang mudik kehulu sungai asal mau membayar cukai 10%.
3.masalah bunuh-membunuh,adalah urusan Radja Pandita.
4.Panembahan Radja Pandita harus bersumpah Qur’an dihadapan Sultan,assisten resident, dan controleur.
Setalah RADJA PANDITA  mendengar persyaratan yang di minta oleh ASSISTEN RESIDENT dan Sultan Bulungan yang sampaikan oleh juru bahasa,maka dia tidak mau mengakui (tidak setuju),yang hal ini disampaikan oleh juru  bahasa kepada assisten resident, kemudian Assisten Resident mengatakan,kalau tidak setuju diancam akan di buang ke banjarmasin dan betawi,yang disampaikan pula  kepada RADJA PANDITA
Oleh RADJA PANDITA  setelah  mendengar ancaman tersebut,mengatakan apa lagi ke banjarmasin kemana saja silahkan.
Setelah pernyataan penolakan RADJA PANDITA  tersebut disampaikan kembali kepada assisten resident,maka assisten meminta kepada juru bahasa agar menyampaikan kepada RADJA PANDITA,supaya boleh pulang ke malinau,tetapi cucunya SYARIF PANEMBAHAN harus tinggal,dan karena RADJA PANDITA terlalu sayang kepada cucunya, maka disarankan oleh juru bahasa supaya berfikir baik-baik.
Mendengar nasehat juru bahasa tersebut,akhirnya raja pandita berbicara kepada  juru bahasa agar menyampaikan kepada assisten resident dan sultan bulungan yakni yang disetujui oleh beliau adalah:
1.Pengangkatan Radja pada cucunya Syarif Panembahan dicabut kembali,dan diserahkan kepada keponakannya AJI KUNING,yakni anak saudaranya yang paling tua.
2.Sebagian cukai hasil hutan yang keluar dari Malinau disetujui,sedangkan persayaratan lainnya tidak diakui(tidak disetujui).
Kemudian oleh juru bahasa hal ini disampaikan kepada assisten resident,dan assiten resident menyarakan kepada juru bahasa,agar besok pagi bawa Radja Pandita menghadap di tempat sultan.
Keesokan paginya juru bahasa bersama RADJA PANDITA datang bersama ketempat sultan dan di depan sultan dan assisten resident serta anak-anak raja bulungan,Radja Pandita disidang,bahwa yang telah disetujuinya tersebut akan ditagih.setelah selesai pembicaraan RADJA PANDITA pulang Malinau berserta dengan cucu dan pengawalnya,sedangkan  AJI KUNING keponakan yang dipersiapkan untuk bakal pengganti mulai karena sesuatu sebab dan politik belanda,dia ditahan oleh belanda dan Sultan Bulungan,termasuk pakaian kebesaran Kerajaan Tidung Radja Pandita.
Setahun kemudian,pada tahun 1296 H,bersamaan dengan 1884 M,Sultan Bulungan bersama anak-anak Radja Bulungan dan AJI KUNING keponakan RADJA PANDITA yang di tahan di Bulungan datang Malinau untuk mengembalikan pakaian kebesaran Kerajaan Tidung RADJA PANDITA ,dengan perkataan Sultan,bahwa AJI KUNING belum mau menerima pakaian tersebut.
Oleh RADJA PANDITA pakaian kebesaran Kerajaan Tidung tersebut diterima,dankemudian RADJA PANDITA mengatakan kepada Sultan,bahwa tidak boleh siapa-siapa yang mengganggu dan turut campur dalam hal apapun di Kerajaan Tidung.
Setelah selesai penyerahan pakaian kebesaran Kerajaan Tidung kepada Radja Pandita,maka Sultan Bulungan bersama rombongan berangkat kembali ke Bulungan,sedangkan Aji Kuning ditahan oleh Radja Pandita.
Kira-kira 3 (tiga) tahun dari kembalinya Aji Kuning dari Bulungan ,yakni pada tahun 1292 h bersama dengan tahun 1887 m,pusat pemerintahan kerajaan tidung di kuala malinau di pindahkan ke Kuala Kabiran dan tampuk pemerintahan masih dipegang oleh Radja Pandita di bantu oleh Aji Kuning,keponakan yang dipersiapkan untuk bekal menggantikan beliau.
Setelah kurang lebih 5(lima) tahun pemerintahan Kerajaan Tidung Malinau di Kuala Kabiran,pada tahun 1301h bersamaan dengan tahun 1892 m,dengan tidak disangka sangka tibalah sebuah kapal(SUPIA) dan 2 (dua) buah BARGAS,atau kapal pengawal yang membawa rombongan resident,sultan bulungan dan militer belanda untuk keperluan menangkap RADJA PANDITA.
Pada ketika itu rakyat yang ada mengadakan persiapan hendak mengadakan perlawanan serta perempuan dan anak-anak diasingkan,tetapi RADJA PANDITA melarang,karena satahu beliau dari penyampaian Datuk Badar ,bahwa resident dan sultan bulungan perlu untuk mengadakan pembicaraan dan berunding dengan RADJA PANDITA,selain itu beliau khawatir akan nasib cucunya ditugaskan untuk menemui Resident di Sesayap,sebagai pengganti untuk mewakil beliau yang dipanggil untuk menghadap Resedent,karena beliau dalam keadaan kurang sehat.
Karena RADJA PANDITA tidak hadir itulah kemudian rombong resident dan Sultan Bulungan datang ke Kuala Kabiran( Kerajaan Tidung),untuk menangkap RADJA PANDITA, dan pada hari itu juga berangkat menuju Sesayap,yang disana sudah menunggu kapal perang JELATIK dan SUMBING.
Setelah sampai di sesayap,raja pandita bersama pengikut-pengikutnya naik ke atas kapal perang dan berangkat menuju Kutai.Setibanya di Kutai maka para pengiring dan pengikut serta keluarga RADJA PANDITA  dikembalikan menuju Malinau,sedangkan kedua cucunya SYARIF PANEMBAHAN dan SAYID ABUBAKAR tidak mau ikut kembali ke Malinau,karena tidak mau berpisah dengan RADJA PANDITA,demikian pula keponakannya AJI KUNING.
Kemudian dari Kutai diberangkatkan lagi menuju Banjarmasin ,dan setelah sampai di banjarmasin perundingan dilakukan lagi dengan maksud agar RADJA PANDITA mengakui belanda sebagai yang dipertuan,namun beliau tetap tidak setuju dan beliau tetap tidak mau takluk kepada Sultan /Kerajaan bulungan,dan beliau tetap mempertahankan kedudukannya sebagai Radja Tanah Tidung ,dan menyatakan berdiri sendiri dan lepas dari Kerajaan Bulungan.
Akhir oleh kolonial belanda RADJA PANDITA bersama dengan kedua cucunya SAYID ABDURAHMAN dan SAYID ABUBAKAR diasingkan/dibuang ke batavia,sedangkan AJI KUNING pulang kembali ke Malinau,dan setelah 2 (dua) tahun di batavia,beliau dikirim ke kepulau seribu, sehingga semenjak kedatangan beliau di pulau tersebut,maka dinamakanlah oleh beliau pulau tersebut PULAU TIDUNG,karena memangraja pandita adalah seorang raja yang berasal dari suku TIDUNG’’.
Kemudian mengenai cucunya SAYID ABDURAHMAN dengan SYARIF PANEMBAHAN di kirim ke JAPARA dan wafat di jepara,sedangkan SAYID ABUBAKAR tidak diketahui dimana beliau diasingkan,dan makamnya juga tidak diketahui tempatnya.

lV. RANGKUMAN/KESIMPULAN
1.      Sebelum RADJA PANDITA diundang ke bulungan,sudah berlaku kontrak politik yaitu suatu perjanjian kerjasama antara Kesultanan Bulungan dengan pemerintah kolonial belanda pada zaman sultan MAULANA MOHAMMAD KAHARUDIN,yang salah satu isi menyatakan bahwa Kesultanan Bulungan menguasai Kerajaan Tidung.
2.  Hal tersebut diatas,adalah merupakan pernytaan sepihak yang sebenarnya ditentang dan tidak disetujui oleh RADJA PANDITA selaku Radja Tanah Tidung.
3. Karena RADJA PANDITA tidak setuju dan tetap mempertahankan kedudukannya sebagai Radja Tidung di Tanah Tidung dan menyatakan berdiri sendiri sendiri,serta terlepas dari kerajaan bulungan,maka Resident memerintahkan untuk menangkap RADJA PANDITA,dan diasingkan ke PULAU JAWA (BATAVIA) atas biaya Sultan Bulungan ( MUHD.NOER, SEJARAH KERAJAAN TIDUNG,APRIL 1997).
4.Sebelum RADJA PANDITA diasingkan ke PULAU JAWA (BATAVIA),perundingan dilaksanakan di banjarmasin dengan Resident ,dengan maksud agar RADJA PANDITA mau mengakui BELANDA sebagai yang dipertuan,namun beliau tidak setuju,sehingga akhirnya bersama kedua cucuknya beliau diasingkan lagi le sebuah pulau di kepulauan seribu,yakni yang saaat ini bernama PULAU TIDUNG sampai wafat pada tahun 1898 masehi,dalam usia 81 tahun.
5. Selama 4 (empat) tahun di Pulau Tidung RADJA PANDITA sempat menikah dengan seorang perempuan yang bernama TEAH dan memperoleh seoran putra yang bernama HAMIDUN.
6.Dari HAMIDUN inilah diperoleh keturunan yang sebagian besar berada di pulau TIDUNG dan sekitarnya kepulauan seribu saat ini.
7. Setelah pengasingan RADJA PANDITA ,maka mulailah BELANDA bersama kesultanan bulungan menguasai tanah tidung,dan pemerintahan kolonial belanda yang pertama berkuasa di wilayah Tanah Tidung,adalah dibawah pimpinan KAPTEN SETSEN dan sejak saat itulah sultan bulungan melantik AJI KUNING selaku pengganti RADJA PANDITA,yang kemudian oleh AJI KUNING pada tahun 1901pusat pemerintahan dipindahkan ke SEBAMBEN(MALINAU),namun dibawah kendali kekuasaan Kesultanan Bulungan dan pemerintahan kolonial belanda.

V .PENUTUP
Demikian sekedar riwayat singkat dari RADJA PANDITA selaku RADJA TIDUNG yang menentang Kolonial Belanda.
Untuk mengenang Almarhum Radja Pandita,kami dari keluarga besar di Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Timur mengajukan usul kepada Pemerintah Kabupaten Malinau,serta MABES TNI ANGKATAN darat,agar BATALYON TNI ANGKATAN DARAT Kabupaten Malinau ,diberi nama:
Batalyon 614 Radja Pandita
Dan Alhamdulilah permohonan tersebut disetujui ,sebagaimana kita ketahui telah hadir bersama dengan kita disini komandan batalyon 614 Radja Pandita Kabupaten Malinau,yth .Bapak LETNAN KOLONEL INFANTRI M.NASRULLOH NASUTION,demikian juga nama jalan poros kabupaten malinau yang dinamakan Jalan Radja Pandita.
Tiada yang dapat kami berikan kepadanya sebagai balasan atas semua yang telah ditinggalkan bagi kita kecuali do’a ,oleh karena itu marilah kita bersama-sama memohon kepada allah swt,agar diampuni dosa almarhum dan diberikan tempat yang layak disisinya,amin ya robbal alamin.
Pada kesempatan yang mulia ini diharapkan keberadaan makam raja pandita ini,akan menjadi dan menambah asset wisata Sejarah bagi kita bersama,khususnya masyarakat Pulau Tidung,bersama pemerintahan daerah Kepulauan Seribu pada umumnya.
Semoga amal kebaikan bapak ibu dan hadirin sekalian akan memberikan kelapangan bagi almarhum di akhirat kelak dan menjadi rahmat bagi kita semua dihadapan allah swt.AMIN YA ROBBAL ALAMIN
Assalamu’alaikum warahmatullahhi wabarokatuh.
Pulau Tidung,jakarta ,29 juni 2011

Dikutip berdasarkan keterangan dari nar sumber:
1.      ALMARHUM AJI MUHAMMAD SADI
2.      ALMARHUM PANEMBAHAN.                        SULAIMAN
3.      ALMARHUM AJI KAPITAN
4.      ALMARHUM  TAMA TALIB (HASAN)
Disempurnakan kembali dalam ejaan  bahasa indonesia yang disempurnakan oleh:
1.      DR(HC)H.A.ABUL MUTHALIB ................................
2.      H.MUHAMMAD USAMAN S.Pd.................................
3.      HJ.AJI MUSTIKA JAYA,A.Ma.Pd................................





Comments

Popular posts from this blog

SEJARAH YANG DI KABURKAN

SINGAL TIDUNG HIASAN KEPALA HAS SUKU TIDUNG