OPINI BUDAYA |KEBUTUHAN AKAN KESADARAN BUDAYA

Berikut ini sedikit ulasan tentang kesadaran
budaya dengan diawali dengan pengertian
budaya. Pesan filosofisnya begitu mendalam
hingga dalam perkembangannya menyinggung
tentang sikap multikulturalisme yang sesuai
dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.
ARTI BUDAYA
Budaya adalah bentuk jamak dari budi. Budi ini
sinonim dengan akal budi atau kebudayaan.
Menurut beberapa ahli, akar kata budi itu sangat
filosofis. Penggunaan kata “budi” sudah ada sejak
dahulu. Akar kata “budi” adalah kata sansekerta
“buddha”. Kata “Buddha” sendiri berasal dari kata
“buddh” yang berarti “yang mengetahui”,
mengacu pada pencapaian spiritual dalam puncak
pengetahuan tertinggi atau yang sering disebut
sebagai pencerahan.
Kata “budi” sendiri sudah umum digunakan dalam
sastra Jawa. Pada abad ke-18, dalam Serat
Centhini. “Wujud tanpa kahanan puniki. Ing dalem
kak sajati lantaran. Inggih budi lantarané. Sarupa
wujud ing hu. Pan jumeneng Muhammad latip.
Mustakik ing Hyang Suksma. Kenyatanipun. Budi
wujud ing Hyang Suksma. Inggih budi inggih
Hyang kang Mahasuci. Budi tatabonira.”
Terjemahan bebasnya:
“Wujudnya tanpa keberadaan adalah antara
realitas sejati. Hal itu disebut Budi. Budi mirip
dengan keberadaan Tuhan. Budi juga disebut
spiritual Muhammad. Ini adalah manifestasi dari
Roh. Budi adalah keberadaan Roh dan itu adalah
All-Murni. Budi adalah tempat yang damai.”
Budi dalam pengertian ini sama dengan konsep
Sufi tentang Nur Muhammad atau konsep Plato
tentang Universal Soul.
Ada banyak filsafat tentang budi. Contoh diatas
adalah salah satu yang digunakan Dr. Wahidin
Soedirohusodo yang mendirikan Budi Utomo pada
awal abad ke-19. Itu juga yang menjadi alasan
mengapa organisasi yang dibentuknya memakai
kata “Budi”.
Budi diterjemahkan dan di interpretasikan ulang.
Berikut ada beberapa tokoh yang mencoba
memahaminya.
Ki Hajar Dewantara (1889- 1959), pada awal tahun
1970an mendefinisikan budi sebagai “the matured
human soul”. Keadaan jiwa manusia yang sudah
matang (mature). Budi pekerti menurut Ki Hadjar
bukan sekedar konsep teoritis, juga bukan
mengajar teori tentang baik buruk, benar salah
dan seterusnya. Pendidikan budi pekerti perlu
melibatkan metode mengerti, merasa /
menginsyafi dan menjalankan. Ini adalah konsep
ngerti, ngerasa dan ngelakoni (“tri-nga”) .
Prof. Dr. Nikolaus Drijarkara (1913-1967), seorang
pastor Katolik yang juga seorang budayawan,
memahami budi yang mirip dengan paham
Imanuel Kant sebagai “ethical reason” atau “moral
reason”. Sesuatu yang sudah ada sebelum moral.
Ini mengacu pada kesadaran yang menjadi awal
dari perilaku manusia. Dalam pandangan Nasrani,
itu berkembang menjadi konsep “hati nurani”.
Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994), memahami
Budi dalam pengertian ini. “Adalah pola kejiwaan
yang di dalamnya terkandung dorongan-dorongan
hidup yang dasar, inseting (instink), perasaan,
dengan pikiran, kemauan dan fantasi yang kita
namakan budi. Budi itu adalah dasar segala
kehidupan kebudayaan manusia.”
Dengan kata lain, karya seni budaya harus dilihat
dalam cara menuangkan budi pekertinya. Ketika
pendidikan budi pekerti menjadi jarang menjadi
perhatian, maka budaya itu secara sempit hanya
dipahami sebagai peninggalan tradisi dan karya
seni saja. Hal ini yang membuat generasi muda
menjadi miskin akan makna hidup, oleh karena
budi pekerti dilupakan.
KESADARAN BUDAYA
Berikut ini ada penjelasan tentang kesadaran
budaya dalam pengertian umum.
Secara definitif, Kesadaran Budaya adalah sikap
dimana seseorang menghargai, memahami, dan
mengerti akan adanya perbedaan-perbedaan yang
ada dalam budaya tersebut. Adanya konflik sosial
yang kadang dipicu oleh faktor lain, seperti politik,
ekonomi, dan lain sebagainya, itu terjadi karena
orang-orang tidak memahami adanya
keberagaman budaya, sehingga lupa bahwa
kelompok masyarakat lain juga memiliki budayanya
masing-masing. Karena itu sikap memperlakukan
yang sama pada kebudayaan lain sering membawa
konflik, yang bisa berkembang menjadi konflik
antar etnis bahkan antar agama.
Untuk itu perlu sekali untuk menumbuhkan
Keadaran Budaya ini. Setidaknya ada empat hal
yang bisa dilakukan.
Satu, Penanaman sikap multikulturalisme sejak
dini. Penanaman sikap toleransi dan untuk saling
menghargai antar budaya merupakan fondasi awal
agar seseorang mampu menyadari adanya
perbedaan dari masing-masing budaya. Hal ini
nantinya akan bisa memperkuat integrasi bangsa
apabila sikap multikulturalime sudah mendarah
daging.
Dua, Sosialisasi budaya melalui lembaga
pendidikan. Dimasukkannya budaya lokal dalam
kurikulum pendidikan adalah salah satu upaya
yang strategis dalam menjaga ekistensi budaya
lokal. Tentu didalamnya juga perlu melibatkan
pendidikan budi pekerti.
Tiga, Penyelenggaraan berbagai pentas budaya.
Menghidupkan budaya lokal dengan melibatkan
generasi muda. Bahkan mengkombinasi budaya
lokal dengan budaya kontemporer.
Empat, Mencintai dan menjaga budaya yang
dimiliki. Kesadaran Budaya selalu diawali oleh
kecintaan atas budaya.
MULTIKULTURALISE VS ELITISME
Elitisme itu mendorong seseorang merasa dirinya
memiliki status sosial politik yang lebihtinggi dari
orang lain, terutama rakyat kebanyakan.
Keadaran budaya awalnya mungkin dari kecintaan
akan budaya lokalnya sendiri, namun itu hanya
permulaan, pintu menuju multikulturalisme. Orang
yang cinta budaya adalah orang yang cinta akan
makna. Kemampuan menerjemahkan makna akan
membawa orang semakin jauh dari elitisme.
Dengan kata lain, budi pekerti yang baik tidak
akan membuat seseorang bergeser pada elitisme,
tapi justru mengarah pada multikulturalisme.
Kesadaran budaya yang didasarkan budi pekerti,
akan memberikan kesaling pengertian. Berangkat
dari berbedaan tapi dapat memaknainya dengan
baik sehingga menyadari adanya kesamaan tujuan.
Ini adalah Bhinneka Tunggal Ika.

Comments

Popular posts from this blog

SEJARAH YANG DI KABURKAN

SINGAL TIDUNG HIASAN KEPALA HAS SUKU TIDUNG

PANEMBAHAN RADJA PANDITA