PANEMBAHAN RADJA TAU (Radja Pemersatu Suku )
Tongkat kepemimpinan kerajaan Tidung yang 11 dipegang oleh Hanapiah, suami Aji Ratu yang tidak lain adalah puteri Panembahan Hasan. Radja yang diberi gelar Panembahan Radja Tua tersebut adalah Putera Pangeran Muda . Pada masa itulah Pusat Kerajaan berpindah dari Tideng Pale ke Setiud dan Sawang Pangku/Kuala Bengalun, dan akhirnya ke Kuala Malinau/Pagun Alung Malinau/Pulau Sapi, Mentarang sekarang.Panembahan Radja Tua dikenal sebagai Radja Pemersatu dan karena itu juga berhasil menjaga keamanan wilayah dari serangan “ayau” (gium utok: mencari kepala, ngalap utok: mengambil kepala) ataupun peperangan. Para kepala suku menyepakati “Perjanjian Sebila” yang diikrarkan dengan mengisap darah.
Suku-suku yang dipersatukan adalah yang disebut “lun daud” (orang ulu) yaitu Lundaye di Sungai Tidung, Lun Tubu di Sungai Tidung dan Sungai Tubu, Lun Abay di Sungai Malinau dan Lun Bau yang berasal dari hulu sungai Kayan. Persahabatan juga diikat dengan Suku Bau yang datang dari Sungai Bahau/Tanah Buwa di ulu sungai Kayan diijinkan berdiam di daerah Langap hulu sungai Malinau. Radja Tua juga menjalin persaudaraan dengan kepala suku Abay yang pindah dari Semamu ke Long Gita, serta dengan kepala suku Punan Tubu dan Suku Abay yang mendiami Sentaban dan kepala suku Abay dari Lidung Kemenci.
Comments